BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, 30 November 2011

KEONG EMAS

Di Kerajaan Daha, hiduplah dua orang putri yang sangat cantik jelita. Putri nan cantik jelita tersebut bernama Candra Kirana dan Dewi Galuh. Kedua putri Raja tersebut hidup sangat bahagia dan serba kecukupan.
Hingga suatu hari datanglah seorang pangeran yang sangat tampan dari Kerajaan Kahuripan ke Kerajaan Daha. Pangeran tersebut bernama Raden Inu Kertapati. Maksud kedatangannya ke Kerajaan Daha adalah untuk melamar Candra Kirana. Kedatangan Raden Inu Kertapati sangat disambut baik oleh Raja Kertamarta, dan akhirnya Candra Kirana ditunangkan dengan Raden Inu Kertapati.
Pertunangan itu ternyata membuat Dewi Galuh merasa iri. Kerena dia merasa kalau Raden Inu Kertapati lebih cocok untuk dirinya. Oleh karena itu Dewi Galuh lalu pergi ke rumah Nenek Sihir. Dia meminta agar nenek sihir itu menyihir Candra Kirana menjadi sesuatu yang menjijikkan dan dijauhkan dari Raden Inu. Nenek Sihir pun menyetujui permintaan Dewi Galuh, dan menyihir Candra Kirana menjadi Keong Emas, lalu membuangnya ke sungai.
Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut dalam jalanya tersebut. Keong Emas itu lalu dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi di sungai, tetapi tak mendapat ikan seekorpun. Kemudian Nenek tersebut memutuskan untuk pulang saja, sesampainya di rumah ia sangat kaget sekali, karena di meja sudah tersedia masakan yang sangat enak-enak. Si nenek bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa yang memgirim masakan ini.
Begitu pula hari-hari berikutnya si nenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek ingin mengintip apa yang terjadi pada saat dia pergi mencari ikan. Nenek itu lalu berpura-pura pergi ke sungai untuk mencari ikan seperti biasanya, lalu pergi ke belakang rumah untuk mengintipnya. Setelah beberapa saat, si nenek sangat terkejut. Karena keong emas yang ada ditempayan berubah wujud menjadi gadis cantik. Gadis tersebut lalu memasak dan menyiapkan masakan tersebut di meja. Karena merasa penasaran, lalu nenek tersebut memberanikan diri untuk menegur putri nan cantik itu. “Siapakah kamu ini putri cantik, dan dari mana asalmu?”, tanya si nenek. "Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh nenek sihir utusan saudaraku karena merasa iri kepadaku", kata keong emas. Setelah menjawab pertanyaan dari nenek, Candra Kirana berubah lagi menjadi Keong Emas, dan nenek sangat terheran-heran.
Sementara pangeran Inu Kertapati tak mau diam saja ketika tahu candra kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihirpun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati. Raden Inu Kertapati Kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap burung gagak itu sakti dan menurutinya padahal raden Inu diberikan arah yang salah. Diperjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik Ia menolong Raden Inu dari burung gagak itu.
Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap. Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya raden itu pergi kedesa dadapan. Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia kedesa Dadapan Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Di gubuk itu ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihat Candra Kirana sedang memasak. Akhirnya sihir dari nenek sihir pun hilang karena perjumpaan itu. Akhirnya Raden Inu memboyong tunangannya beserta nenek yang baik hati tersebut ke istana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Dewi Galuh pada Baginda Kertamarta.
Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Dewi Galuh lalu mendapat hukuman yang setimpal. Karena Dewi Galuh merasa takut, maka dia melarikan diri ke hutan. Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapati pun berlangsung, dan pesta tersebut sangat meriah. Akhirnya mereka hidup bahagia.

Teater Kapai-Kapai

I.1 Pendahuluan
Drama (Yunani Kuno: δρμα) adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti "aksi", "perbuatan". Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera.                
I.2 Tujuan dari pementasan secara umum dan tujuan khusus
            Tujuan pementasan ini agar masyarakat lebih mengghargai dan mengapresiasikan karya sastra, dan mengenalkan kepada masyarakat tentang bentuk pertunjukan.         
I.3 Manfaat dari naskah . dan misi atau manfaat untuk pemain dan penonton
            Naskah ini mengandung banyak nilai social, jadi manfaat naskah ini lebih mengajarkan kepada pemain maupun penonto agar lebih mengerti kehidupan dan jangan hanya bermimpi tapi dilakukan dengan usaha.           

BAB II
II.1 Kajian teori  Drama
II.2 Ringkasan cerita
Cerita dimulai ketika tokoh Emak mendongengkan kepada Abu tentang Pangeran dan Sang Putri yang selalu bahagia karena memiliki cermin Tipu Daya. Dengan cerita itu abu diberi Emak impian-impian duniawai yang bagus. Kebahagiaan yang dicari Abu menurut Emak ada di dunia ini walaupun letaknya sangat jauh, yaitu di ujung dunia. Abu dalam keraguan dan penasaran menanyakan di mana ujung dunia, tempat kebahagiaan itu kepada Burung, Katak, Rumput, Pohon, Air, Batu, dan Kambing. Hinggan Abu bertemu kakek  yang menyakinkan ia bahwa kebahagiaan itu ada jika memiliki cermin sejati, cermin yang mampu melahirkan kejujuran dan kesadaran pada kekinian. Tapi Abu selalu terbuai kembali dengan cerita Emak. Tiba-tiba abu tersentak dari lamunannya oleh bentakan Iyem dan ribuan majikan. Namun emak, dibantu oleh tokoh Bulan dengan sinarnya , tetap mencoba menghibur Abu dengan melanjutkan dongeng tentang kehebatan Pangeran saat mendapatkan kekayaan dengan Cermin Tipu Daya. Makin hebatlah lamunan Abu.
Melalui tokoh Yang Kelam, di ungkapkan bahwa abu mulai menua. Yang Kelam membuat dahi Abu berkerut dan badannnya makin lemah. Abu bersedih, tertegun memikirkan nasibnya. Namun Emaknya tetap menganjurkan agar Abu berbahagia dengan menggunakan Cermin Tipu Daya. Emak pun minta bantuan Rombongan Lenong untuk menghibur Abu dan Menyampaikan cerita Sang Pangeran, Raja Jin, Sang Putri, dan Cermin Tipu Daya.
Tokoh Emak juga memperingatkan Yang Kelam tentang tugasnya menambah penderitaan Abu. Emak mulai mempercakapkan tentang kematian kepada Abu. Dikatakannya bahwa nisan Abu kelak harus terbuat dari cahaya.
Makin berat tugas dan penderitaan Abu menghadapi majikan. Panggilan dengan bel dan teriakan terus-menerus. Disamping itu Abu pun mulai lebih banyak menghadapi Yang Kelam, yang bertugas memperlihatkan usia hidup Abu sebagai manusia. Yaitu menjadi tua dan mati. Dalam kedaan demikian Abu dan Iyem berpacu dengan sang waktu sambil Emak terus mengatakan bahwa Abu pasti berhasil mendapatkan cermin. Beberapa langkah lagi Abu akan mencapai ujung dunia.
Saat-saat Abu mendekati tujuan untuk mendapatkan cermin(kepuasan hidup yang dikejar-kejarnya). Mendekati ujung dunia, tokoh Emak berbalik menjadi pembunuh Abu. Akhirnya Abu mendapatkan cermin yang didambakannya ujung dunia yang hendak dicapainya, tetapi itu tidak lain adalah akhir hayatnya. Diungkapkanlah bagian akhir Kakek dan yang lainnya mengantarkan jenazah Abu ke pemakaman.
  
BAB III
III.1 Unsur-Unsur intrinsic dan ekstrinsik
III.1.a Unsur Intrinsik
a)      Tema                  :  Seseorang yang hidup dalam kemiskinan dan terlalu banyak bermimpi.
b)      Alur                    :  alur yang di gunakan adalah alur Maju
c)      Gaya bahasa       :  dalam teater ini menggunakan makna Denotasi, dan terdapat puisi  dan pantun
d)     Latar                   :
·         Tempat : Rumah Abu, Pabrik, di Jalan.
·         Waktu : malam, pagi, dan siang.
·         Suasana: Menyenangkan dan menyedihkan
e)      Tokoh dan watak  :
1.    Emak                     : Licik, dan pembuai
2.    Abu                        : Pemalas, miskin, dan selalu bermimpi
3.    Iyem                      : Cerewet, dan Suka marah-marah
4.    Yang Kelam          : Jahat,
5.    Bulan                     : Baik, tidak tegaan, dan mudah menangis
6.    Majikan I               : Gagah, garang atau galak
7.    Majikan 2               : Baik, lebih mengerti Abu
8.    Pengeran tampan   : Penghibur, penolong. Dan lucu
9.    Putri cina               : Genit
10.  Jin Baghdad          : Jahat
11.  Kakek                    : Baik hati
12.  Bel                         : Penolong
13.  Pasukan yang kelam
14.  koor
f)       Sudut Pandang  :  Sudut Pandang yang digunakan adalah Sudt pandang orang ketiga
g)      Amanat              : jika kita ingin sukses kita harus berusah janfgan hanya bermimpi dan berkhayal
III.1.b Unsur Ekstrinsik
a.       Nilai sosiologi
Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat.

Sejarah istilah sosiologi :
·         1842: Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comte tahun 1842 dan kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi.[rujukan?] Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat lahir di Eropa karena ilmuwan Eropa pada abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial.[rujukan?] Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia.[rujukan?] Comte membedakan antara sosiologi statis, dimana perhatian dipusatkan pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat dan sosiologi dinamis dimana perhatian dipusatkan tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan. Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi.[rujukan?] Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa).[rujukan?] Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.[rujukan?]
·         Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis.[rujukan?] Emile memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.
·         1876: Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology dan memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.
·         Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.
·         Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia.
·         Di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology.
Nilai sosiologi yang terdapat pada teater ini ditunjukan pada sikap Emak terhadap Abu yang selalu membuai Abu dengan khayalan-khayalan. Sikap Bulan terhadap Abu ia tidak tegaan Saat Abu terlalu dibuai oleh Emak. Yang kelam bersikap kasar atau jahat  terhadap Abu ia selalu menyiksa Abu. Iyem adalah istri Abu yang selalu mengeluh akan keadaan miskin yang deritany, majikan 1 terlalu menggunakan fisiknya untuk memerintahkan Abu, Majikan 2 ia lebih menggunakn pikirannya untuk memerintahkan Abu. Nilai sosiologi juga di tunjukan oleh kakek yang tidak ingin Abu terlalu terjerumus dalam buaian Emak. Kakek yang selalu berusaha ingin merubah Abu agar tidak terlalu terbuai oleh Emak. Dikutip dalam
“Emak selalu mendongengkan Abu tentang Cermin Tipu Daya. Emak membuai Abu dengan dongengnya.”
“Kelam anak buah dari Emak sikapnya yang jahat dan selalu menyiksa Abu”
“Saat Bulan muncul ia di perintahkan oleh Emak untuk menyelimuti Abu (Bulan menyelimuti Abu dengan Cahaya) jaga dia. Bulan berkata pada Emak “kalau dya terbangun? Emak”Tidurkan Lagi”, Bulan “kalau dia terjaga lagi”, Emak”Mabukkan dia”. Dan saat Abu tersadar dari tidurnya Bulan kembali menyuruh Abu untuk tidur.”
“iyem adalah istri dari Abu iya yang tidak terima dengan keadaannya, ia sudah cape dengan hidup miskin dan selalu menyuruh Abu untuk memperbaiki keadaan mereka”
“majikan 1 selalu menyiksa Abu jika ia memerintahkan Abu ia selalu mencambuk Abu dan memanggil Abu dengan panggilan kasar”
“Majikan 2  ia menggunakan pikirannya dalam memerintahkan Abu, ia pun memanggil Abu dengan Panggilan “titik titik setrip”

“ Ketika Abu bertemu dengan kakek, kakek berkata” tak ada tempat yang paling teduh dan tak ada obat pelelah selain Agama” Abu bertanya kepada kakek” saya butuh cermin Tipu Daya” apa itu cermin tipu daya”kata kakek”, kakek tidak ingin Abu terjerum dalam buaian kakek .

LAYAR TERKEMBANG

Tuti adalah putri sulung Raden Wiriatmadja. Dia dikenal sebagai seorang gadis yang pendiam teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yang selalu serius dan cenderung pendiam sangat berbeda dengan adiknya Maria. Ia seorang gadis yang lincah dan periang.
Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggap di Martapura, Sumatra Selatan.
Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan diantarnya Tuti dan Maria pulang. Bagi yusuf, perteman itu ternyata berkesan cukup mendalam. Ia selal teringat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu, memancarkan semangat hidup yang dinamis.
Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun kemudian dengan senang hati menemani keduanya berjalan-jalan. Cukup hangat mereka bercakap-cakap mengenai berbagai hal.
Sejak itu, pertemuan antara Yusuf dan Maria berlangsung lebih kerap. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa.
Tuti sendiri terus disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam kongres Putri Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan emansipasi wanita. Suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk memajukan kaumnya.
Pada masa liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura. Sesungguhnya ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan tanah leluhurnya, namun ternyata ia tak dapat menghilangkan rasa rindunya kepada Maria. Dalam keadaan demikian, datang pula kartu pos dari Maria yang justru membuatnya makin diserbu rindu. Berikutnya, surat Maria datang lagi. Kali ini mengabarkan perihal perjalannya bersama Rukamah, saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda itu pun segera meninggalkan Martapura.
Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Kedua sejoli itu pun melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar air terjun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria.
Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Sesungguhpun demikian pikiran Tuti tidak urung diganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Ingat pula ia pada teman sejawatnya, Supomo. Lelaki itu pernah mengirimkan surat cintanya kepada Tuti.
Ketika Maria mendadak terkena demam malaria, Tuti menjaganya dengan sabar. Saat itulah tiba adik Supomo yang ternyata disuruh Supomo untuk meminta jawaban Tuti perihal keinginandsnya untuk menjalin cinta dengannya. Sesungguhpun gadis itu sebenarnya sedang merindukan cinta kasih seorang, Supomo dipandangnya sebagai bukan lelaki idamannya. Maka segera ia menulis surat penolakannya.
Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian diputuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Ternyata menurut keterangan dokter, Maria mengidap penyakit TBC. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit TBC di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat. Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan. Lebih daripada itu, Maria mulai merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampaknya ia sudah pasrah menerima kenyataan.
Pada suatu kesempatan, disaat Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah mata Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam itu, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.
Sejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat berbuat lebih banyak lagi. Kemudian setelah Maria sempat berpesan kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga, Maria mengjhembuskan napasnya yang terakhir. “Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya yang penghabisan dan saya, saya tidak rela selama-lamanya kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain”. Demikianlah pesan terakhir almarhum Maria. Lalu sesuai dengan pesan tersebut Yusuf dan Tuti akhirnya tidak dapat berbuat lain, kecuali melangsungkan perkawinan karena cinta keduanya memang sudah tumbuh bersemi. 

MENUNGGU

Pagi  yang cerah, ketika aku pertama masuk gerbang kampus dengan mengendarai sepeda motor metik berwarna biru. Tertegun heran saat melihat antrian panjang untuk mengambil kartu parkir. Hmm.. seperti antri membeli tiket saja yang harus berbaris panjang untuk dapat masuk ke bioskop. Barisan aku cukup jauh kurang lebih lima belas meter dari dua orang yang memberikan kartu parkir dan ia  memakai seragam yang sama, bisa dibilang ia satpam ditempat saya kuliah.
Merasa risih saat Orang yang antri dibelakang aku selalu membunyikan klakson, seperti ingin menyerobot dan tidak sabar untuk antri bergantian. Aku menoleh ke belakang dan ingin tahu siapa orang itu. Selintas melihatnya dengan sepeda motor ninja berwarna biru dan memakai helm yang berkaca hitam. Aku diam sejenak memperhatikan orang itu dengan jaket yang tebal dan celananya agak dibuatnya ketat, seperti celana yang dikenakan salah satu grup band yang katanya si celana itu disebut celana pensil. Entah lah, tapi disisi lain agak sedikit mengerikan saat melihat ada gambar tengkorak didepan jaketnya tersebut. Seperti preman saja, sungguh mengerikan.
Antrian panjang itu pun sudah mulai sedikit, aku pun sudah mendapat kartu parkir. Dan segera untuk mencari tempat parkir motor, terkejut sekali ternyata banyak motor yang berbaris tersusun rapi. Tanpa sadar ternyata ramai sekali disekeliling kampus, saat mahasiswa lalu lalang disetiap area dan di gedung kampus. Tampak dari luar lantai 4, 5 dan 6 ada beberapa mahasiswa yang memperhatikan setiap mahasiswa yang mengendarai motor, terdengar samar-samar dikuping aku ada suara siul dari arah yang tak jauh dari tempat parkir motor kira-kira sepuluh meter. Ternyata mereka segerombolan mahasiswa yang sedang asyik nongkrong di tangga dan menggoda cewek-cewek yang lewat disekitar mereka. Entah lah apa maksud mereka seperti itu, tak aku perdulikan.
Aku berjalan menuju gedung Auditorium, dan tak aku sangka baru aku melihat depan gedung ternyata harus mngantri lagi untuk masuk lift. Hal yang paling sangat menyebalkan, dan tidak mungkin aku harus naik tangga. Aku saja menuju lantai 6, buat aku sangat begitu melelahkan jika harus menaiki tangga. Makin lama mahasiswa berdatangan suasana pun semakin ramai, sedangkan hanya ada tiga lift. Aku langsung menarik nafas, seakan-akan sedikit kesal dan malas harus menunggu lama.

Cukup lama aku menunggu lift dan akhirnya Lift sebelah kanan terbuka, aku dan mahasiswa lainnya langsung menyerbu dan berdesak-desakan untuk dapat masuk lift itu. Aku pun akhirnya dapat masuk, tetapi di dalam lift terasa begitu sempit dan sumpek. Sangat berdesakan sekali, aku merasa asing di dalam lift ketika ada salah satu orang yang mungkin buat aku merasa terganggu. Dengan badan yang lumayan gemuk, wanita itu sangat ribet sekali dengan tasnya yang cukup besar, entah pa yang berada di dalam tasnya. Di tangan kirinya ia memegang buku, kira-kira 3cm tebal buku itu. Sedangkan, di tangan kanannya sedang asik menekan tombol-tombol hp, seperti sedang ketik pesan untuk seseorang. Dan yang anehnya lagi di dalam lift sudut pojok sebelah kiri, seorang cowok yang berpakain kemeja dan jeans begitu tampak kumel dengan rambut yang seperti sarang burung. Orang itu bersandar di dinding lift dan memejamkan mata, seakan-akan masih merasakan ngantuk yang melandanya. Dan kepalnya selalu mirng arah kiri dan kanan. Suasana dalam lift membuat aku ingin tertawa, dengan apa yang dilakukan mahasiswa. Ada yang asik berbincang-bincang dengan temannya, yang berada disudut pojok sebelah kanan asik dengan hpnya yang dipegangnya dan ditempelkan ke kupingnya. Seperti sedang menelfon, dan ada juga sedang asik membaca buku novel yang seingat aku novel itu pernah aku baca sebelumnya. Aku sendiri merasa heran dan bingung berada di tengah-tengah mereka, berbagai aktivitas yang ia lakukan di dalam lift.  Tetapi aku hanya bisa tersenyum kecil.
Satu persatu mahasiswa di dalam lift keluar menuju lantai yang ia tuju. Sedangkan aku orang terakhir di dalam lift untuk menuju lantai 6. Akhirnya aku melangkah keluar lift dan menuju kelas aku, untuk sampai ke kelas aku melewati dua ruang kelas. Sepertinya kelas mereka sudah mulai belajar, dengan dosen yang sedang berdiri di hadapan mahasiswa. Ya, seperti menjelaskan materi yang di bawakan dosen itu.
Sampai depan kelas tampak begitu gelap kelas 630. Aku membuka pintu ternyata benar, teman-teman aku belum ada yang datang. Langsung aku nyalakan lampu, dan aku duduk paling depan. Dengan bangku yang masih tersusun rapi, tidak lama aku merasakan sangat dingin sekali kelas ini. Tampak Acnya menyala dengan suhu yang paling dingin. Seketika itu pula aku membiarkan dingin ini, lalu aku mengambil buku untuk membaca. Sampai menunggu dosen dan teman-teman datang.

World Literature: SUASANA PASAR SERPONG

World Literature: SUASANA PASAR SERPONG: Sekitar pukul enam pagi aku sudah berada di tempat yang ramai. Ya, ini pasar Serpong yang berdekatan dengan stasiun kereta api. Cukup luas d...

LEGENDA TELAGA WARNA

Kalau kita pergi ke daerah Puncak, Jawa Barat, di sana terdapat sebuah telaga yang bila dilihat pada hari cerah akan terkesan airnya berwarna-warni. Telaga itu namanya Telaga Warna dan konon merupakan air mata tangisan seorang ratu.

Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja. Prabu, begitulah orang memanggilnya. Ia adalah raja yang baik dan bijaksana. Tak heran, kalau negeri itu makmur dan tenteram. Tak ada penduduk yang lapar di negeri itu.
Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. “Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat,” sahut mereka.

Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya.. Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak. Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu pun mulai hamil. Seluruh rakyat di kerajaan itu senang sekali. Mereka membanjiri istana dengan hadiah.
Sembilan bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang putri. Penduduk negeri pun kembali mengirimi putri kecil itu aneka hadiah. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang lucu. Belasan tahun kemudian, ia sudah menjadi remaja yang cantik.

Prabu dan Ratu sangat menyayangi putrinya. Mereka memberi putrinya apa pun yang dia inginkan. Namun itu membuatnya menjadi gadis yang manja. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, gadis itu akan marah. Ia bahkan sering berkata kasar. Walaupun begitu, orangtua dan rakyat di kerajaan itu mencintainya.

Hari berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis tercantik di seluruh negeri. Dalam beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di negeri itu pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang sangat indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpannya dalam ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.

Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli perhiasan. “Tolong, buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku,” kata Prabu. “Dengan senang hati, Yang Mulia,” sahut ahli perhiasan. Ia lalu bekerja d sebaik mungkin, dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia, karena ia sangat menyayangi Putri.
Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat makin terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.

Prabu lalu bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipegangnya. “Putriku tercinta, hari ini aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini pemberian orang-orang dari penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak,” kata Prabu.

Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. “Aku tak mau memakainya. Kalung ini jelek!” seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu. Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai.
Itu sungguh mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Putri akan berbuat seperti itu. Tak seorang pun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba terdengar tangisan Ratu. Tangisannya diikuti oleh semua orang.

Tiba-tiba muncul mata air dari halaman istana. Mula-mula membentuk kolam kecil. Lalu istana mulai banjir. Istana pun dipenuhi air bagai danau. Lalu danau itu makin besar dan menenggelamkan istana.

Di hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung Putri yang tersebar di dasar telaga.

A.       UNSUR INTRINSIK

1.      Tema
Dalam legenda Telaga Warna bertema “Kemanusiaan”.

2.      Tokoh dan watak
a.       Raja  Prabu Suwartalaya           :  Penyayang, baik hati, dan bijaksana.
b.      Ratu Purbamanah                       :  Penyayang.
c.       Putri Gilang Rukmini                 :  Durhaka kepada orang tua, pemarah, dan  manja.
d.      Penasehat Raja

3.      Alur
Legenda Telaga Warna Menggunakan alur Maju.

4.      Latar/Setting
a.       Tempat      : Istana
b.      Suasana     : 1. Menyenangkan
  2. Sedih
  3. Mengejutkan
  4. Hening

5.      Amanat
a.       Kita harus menghargai setiap pemberian yang diberikan pada kita.
b.      Sebagai anak kita tidak boleh durhaka pada orang tua.

B.     UNSUR EKSTRINSIK

1.      Nilai sosial

Ketika ahli perhiasan membuatkan kalung yang sangat indah untuk putri.

2.      Nilai Moral

Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. “Aku tak mau memakainya. Kalung ini jelek!” seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu. Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai.

3.      Nilai Kepercayaan

Pada Saat Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak.

C.    T A K S

1.      Tanggapan

Cerita Telaga Warna ini sangat menarik

2.      Alasan

Karena Legenda Telaga Warna ini mengkisahkan seorang keluarga kerajan yang orang tuanya sangat baik hati, tetapi anaknya mempunyai prilaku yang durhaka kepada orang tua dan tidak menghargai pemberian orang lain. Dan itulah salah satu pelajaran yang harus kita perhatikan, jangan pernah durhaka kepada orang tua dan harus bisa menghargai.

3.      Kritikan

Tak seorang pun menyangka prilaku putri sangat tidak baik, karena melempar kalung yang diberikan oleh orang penjuru negeri untuk putri. Seharusnya sikap putri tidak seperti itu.

4.      Saran

1.      Harus bisa menghargai pemberian orang lain.
2.      Dan mempunyai prilaku yang baik terhadap orang tua dan orang lain.